Selasa, 29 Maret 2016

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Bahasa Indonesia

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

SEKOLAH                            : SMP NEGERI 1 INDRAMAYU
MATA PELAJARAN          : BAHASA INDONESIA
KELAS                                  : VIII
SEMESTER                          : 1
ALOKASI WAKTU             : 1X40 MENIT

A. STANDAR KOMPETENSI (SK)
     Menulis : 4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk.

B. KOMPETENSI DASAR (KD)
4.3 Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif.

C. MATERI PEMBELAJARAN
     1. Pengertian petunjuk dan jenis-jenisnya.
     2. Menentukan urutan yang tepat dalam menulis petunjuk
     3. Pengertian bahasa yang efektif dalam menulis petunjuk

D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Siswa dapat memahami pengertian dan jenis-jenis petunjuk.
2. Siswa dapat memahami urutan yang benar dalam petunjuk yang akan disajikan sebagai contoh.
3. Siswa dapat memahami pengertian  penggunaan bahasa yang efektif dalam petunjuk.
4. Siswa dapat menulis petunjuk dalam melakukan sesuatu dengan  urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif.

E. METODE PEMBELAJARAN
     1. Ceramah
     2. Penugasan
     3. Diskusi atau tanya jawab

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
No.
Kegiatan Belajar
Nilai Karakter
1
Kegiatan Awal :
- Guru memulai pelajaran dengan mengucapkan salam kepada siswa
- Guru mengondisikan kelas agar tertib sebelum memulai penjelasan materi
-  Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai Standar Kompetensi (SK) yang akan dipelajari hari ini.
-  Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai Kompetensi Dasar (KD) yang akan dipelajari hari ini.
-  Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran hari ini.
-  Guru memberikan motivasi kepada siswa sebelum memulai menjelaskan materi.
Bersahabat dan komunikatif
2
Kegiatan Inti :
a. Eksplorasi
   - Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai    pengertian petunjuk, urutan yang tepat dalam menulis petunjuk, dan penggunaan bahasa yang efektif dalam menulis petunjuk
   -  Siswa memperhatikan contoh petunjuk yang akan diperlihatkan.
-  Siswa mengurutkan dengan urutan yang tepat pada petunjuk yang dicontohkan.
-  Siswa menentukan penggunaan bahasa yang efektif dalam petunjuk tersebut.
b. Elaborasi
-   Siswa mendiskusikan tentang petunjuk
-  Siswa mengurutkan suatu petunjuk dengan urutan yang tepat dan menentukan penggunaan bahasa yang efektif.
-  Siswa membuat petunjuk melakukan sesuatu

c. Konfirmasi
- Siswa bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami.

Tanggung jawab










Bekerja sama



Komunikatif
3
Kegiatan Akhir :
-  Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.
- Siswa menulis dan memahami tugas yang diberikan guru untuk pertemuan berikutnya
Bekerja sama dan Bertanggungjawab

G. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
     SUMBER  :
     1. Buku paket : Sadikin, Asep Ganda, dkk. 2005. Kompeten Berbahasa Indonesia: SMP/MTS Kelas VIII. Bandung: Grafindo Media Pratama.
     2. Buku paket : Sadikin, Asep Ganda, dkk. 2004, Kompeten Berbahasa Persatuan. SMP/MTS Kelas VIII. Bandung: Grafindo Media Pratama.
     3. Buku paket : Maryati, Sutopo. 2008, Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
     4. Buku paket : Zabadi Fairul, Sutejo. 2014. Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

     MEDIA PEMBELAJARAN :
     1. Laptop
     2. Infocus

H. TUGAS
Individu :
1.  Tentukanlah urutan yang tepat pada petunjuk berikut ini!
     1. Ulangi beberapa kali sehingga mata kelihatan segar dan tidak bengkak
     2. Jika kapas itu kering, basahilah kembali.
     3  Setelah itu basahilah dengan air es.
     4. Ambil kapas secukupnya kemudian bagilah menjadi dua bagian.
     5. Lalu diamkanlah beberapa menit
     6. Letakanlah kedua kapas lembap tersebut pada kedua belah mata
2. Buatlah petunjuk melakukan sesuatu dengan bahasa yang efektif!

I. PENILAIAN
- Uraian bebas per individu










Mengetahui,                                                                                        Indramayu,           2015
Kepala Sekolah                                                                                   Guru Mata Pelajaran



..............................                                                                              .....................................                      

Pendidikan Di Masa Lalu Dan Masa Sekarang


Pendidikan Di Masa Lalu Dan Masa Sekarang
            
      Seorang ilmu filsafat Pernah berkata, sebaik-baiknya suatu bangsa adalah bangsa yang masyaraktnya mengenal pendidikan dan berpendidikan. Jika membahas mengenai pendidikan, tentunya ini akan menjadi hal yang akan sulit untuk menemui titik temu dan akan selalu mengekor di setiap pembahasan. Karena pendidikan adalah satu kata yang vital serta menjadi faktor yang mencerminkan harkat dan  martabat suatu bangsa, khususnya pada masyarakat, dan di setiap individunya.
            Di Indonesia sendiri pendidikan seolah-olah dianggap menjadi suatu hal yang selalu berputar. Pendidikan di masa lalu mungkin masih terdoktrin dengan perbedaan-perbedaan yang pada masa kini sudah mulai terkikis. Contohnya pada zaman penjajahan atau kolonial masih diberlakukannya diskriminasi pada perempuan yang tidak boleh mengenyam pendidikan terlalu tinggi, yang tentunya melanggar HAM dari kaum tersebut. pendidikan di masa lalu juga masih belum sepenuhnya dianggap penting, karena kebanyakan orang tua berideologi jika pendidikan hanyalah suatu kegiatan yang membuang-buang waktu terutama uang, dan bukan sebagai suatu jalan dan wadah untuk mencerdaskan anak-anaknya. Seiring begulirnya waktu, pendidikan di era orde lama, orde baru, dan hingga masa reformasi mengalami peningkatan. Dan memiliki pengaruh pada pandangan di tiap-tiap individu, masyarakat luas mulai menyadari jika pendidikan adalah suatu hal yang memang penting, doktrin jika pendidikan hanya membuang-buang uang mulai memudar dan berkurang pada ideologi para orang tua, pendidikanpun mulai dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa pengecualian.
            Pada masa lalu metode pembelajaran dalam pendidikan mungkin masih terbilang sederhana jika dibandingkan dengan metode pembelajaran di masa kini yang lebih canggih baik dari segi sarana maupun prasaranya, seperti diadakannya bantuan alat-alat dan media untuk mempermudah proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan efektifitas peserta didik dalam memahami materi. Tetapi perlu di garis bawahi lagi, walaupun terdapat perbedaan di masa lalu dan di masa kini mengenai pendidikan yang cenderung mengalami peningkatan, sesungguhnya pendidikan di masa lalu dan di masa kini pun memiliki persamaan, yaitu dalam ruang lingkup bagaimana dapat memperoleh pendidikan tersebut, mengingat jika pendidikan di Indonesia selalu berkaitan dengan faktor yang menjadi pergunjingan di kalangan mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat menengah ke bawah. Sudah bukan menjadi hal yang tidak lumrah lagi jika pendidikan akan berkaitan dengan uang. Tentunya hal itu akan menjadi faktor utama permasalahan di masa kini dalam pendidikan, karena walaupun sudah tidak ada batasan atau diskriminasi dalam memperoleh pendidikan, tetapi realitasnya adalah hanya orang-orang menengah ke ataslah yang dapat mengenyam pendidikan dengan leluasa. Dan hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Langkah Kaki Pemburu Uang Receh”


“Langkah Kaki Pemburu Uang Receh”
            Apa istimewanya uang receh? bernominal kecil dan hanya membuat berat isi dompet. Belum lagi jika berserakan dan menggelinding tak mau berhenti. Duh, lebih baik singkirkan saja. Tapi hari itu saat aku berdiri dibawah terik, sebuah koin bergambar burung garuda menggelinding syahdu dengan suaranya yang khas, dan memarkirkan diri tepat didepan kakiku. Aku tertunduk, kemudian menyapu pandangan kesekitar orang-orang yang berbaris memeganggi gagang motornya. Milik siapa ini? dengan cepat aku injak koin garuda itu. Tidak ada yang memasang gerak-gerik kehilangan, ya.. aku selalu benar, uang receh memang tidak terlalu dicari dan dipermasalahkan.
            Aku tetap berdiri dan menunggu, bahkan mulai celingukan memutar leher, entah menunggu apa, aku hanya ingin mencari raut wajah yang merasa kehilangan, kebingungan, atau apa sajalah yang berkaitan dengan itu. Tapi nihil, aku lelah berdiri. Kuputuskan untuk memberikan koin itu pada pak Bonar, cepat sekali beliau datang. Seperti biasa dia sudah duduk bersedekap sembari menjulurkan wadah kaleng kosong pada barisan yang telah mendapatkan giliran.
            Aku cemplungkan koin garuda itu hingga menimbulkan suara “Pluk” yang membuat pak Bonar kaget. Rupanya, koin garuda itu menjadi koin pertamanya untuk hari ini.
            “Heh bocah, sedang apa kau ini? bersedekah?” Pak Bonar bersungut-sungut, memamerkan deretan giginya yang kuning tak pernah digerilya oleh pasta gigi. ia tidak rela jika koin pertamanya berasal dari tanganku. Aku hanya bisa terkekeh melihat wajahnya yang tentu saja tidak pernah pula terguyur air hingga menjadi semakin kusut.
            “Walah pak Bonar, jangan kau marahi bocah ingusan ini, tadi aku nemu, tetapi entah milik siapa” aku menjawab sembari menggaruk rambutku yang gatal.
            “Lalu kenapa tidak kau kantongi saja? Sudah merasa kaya atau bagaimana kau ini hah? Aku seperti lebih rendah darimu saat tanganku berada dibawah tanganmu seperti tadi”
            “Bukan seperti itu pak Bonar, aku merasa itu bukan punyaku, wong aku Cuma nemu kok, takut ngga berkah. Yawis nggo pak Bonar bae” aku melambaikan tangan dan berlalu ke pengisian sebelah tanpa menanti jawaban pak Bonar, bagiku Tuhan telah mengatur rezeki hari ini. dan koin garuda tadi bukan rezekiku.
            Aku mulai menghampiri barisan orang-orang yang memegangi gagang motor lagi, berdiri menunggu giliran. Kali ini ada beberapa mobil yang ikut mengantri dibarisan yang berbeda. Seperti biasa, pagi selalu diwarnai dengan kesibukan kota. Aku juga ingin sibuk seperti mereka. Baiklah, aku mulai mengalungkan benda itu keleherku, dan menabuhkan dua kayu yang diujungnya telah kuikat dengan kain, menabuh-nabuh pada dua paralon yang kedua ujungnyapun kurekatkan karet yang lebar. Ini bukan alat musik, tapi tak apalah kujadikan sebagai pengiring sibuknya pagi ini. aku siap berburu uang receh.
            Lihatlah, adik kecilku itu sedang menanti kedatanganku, duduk memangku kaki dibalai-balai reot. Tapi ada yang aneh, adikku itu makan sembari menangis. Ada apa gerangan? Sontak aku menghampirinya. “Ada apa? Kenapa menangis?” aku mengusap cucuran air mata  yang menetes, adikku tak menjawab. Tetap makan dari piring seng berkarat dan ya, tetap sembari menangis. “Aku tidak mau makan dengan nasi basi kak, tapi perutku sangat lapar. Awalnya tadi aku tidak ingin memakan nasi ini, tapi setelah merasa lapar yang tak terkira aku makan juga nasi ini kak” ucap adikku sembari tersedu-sedu.
            Oh begitu rupanya, aku terenyuh. Lidahku kelu, bingung hendak berbuat apa. Melarangnya melanjutkan makan nasi basi itu atau membiarkannya. Hatiku berontak, tapi lisanku tak dapat mewakilkan dengan kata-kata. Kuputuskan untuk masuk kedalam rumah, mencari sosok ibu. “Berapa banyak nak?” ibu berucap tanpa menoleh kearahku. “Tidak banyak bu, hanya beberapa” ucapku sekenanya.
            “Yasudah, malam ini kita makan nasi basi lagi. Kau sudah lihat adikmu itu kan? Dia meraung-raung sejak pagi, lantas ibu harus bagaimana? Berdiripun tak dapat, ayahmu tak kunjung balik sejak petang kemarin. Entah mencari uang dimana lelaki itu” Ibu menahan nafas dikata terakhirnya, aku hanya bisa menatap sosoknya yang mungkin telah lelah berbaring. Menghabiskan hari berpagut dengan kasur lapuk. Dan aku tahu ibu pasti sedang menahan laparnya lagi. entah untuk yang keberapa kalinya, aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk mencurahkan segala rasa sesak yang ingin menyembul keluar dari dadaku. Mungkin juga sudah busuk karena tak mampu kutumpahkan.
             Aku berlalu pergi meninggalkan ibu, dan adik kecilku yang masih menangis di depan rumah. Senja ini, kuputuskan untuk kembali ke tempat berburu koin lagi. Berharap dapat memperbaiki “Kualitas nasi” yang ibu dan adik makan untuk malam ini.
            Matahari mulai tergelincir, semua bergegas pulang, terkecuali aku yang justru bergegas melawan arus. Pak Bonar sudah meringkuk dipojok selokan. Ah Tuhan.. jadikan aku anak yang pandai bersyukur. Paling tidak masih ada atap yang sudi dijadikan tempat untukku dan keluargaku bernaung. Tapi tak ada yang membedakan, kamilah penyandang status itu, dibalik ratusan profesi dan nama julukan didunia ini. kami hanya layak mendapatkan status “Orang-orang miskin”. Yang berharap banyak dari uang receh yang bagi sebagian besar orang diabaikan, tapi bagiku atau bahkan bagi kami orang-orang miskin, satu uang receh bernilai satu langkah pengharapan untuk kami agar tetap memiliki impian untuk hidup. Biarkan kami mengais-ngais bak sampah, gelandangan? Biarkan kami dijuluki demikian, tak perlulah bagi kami mengemis dan berteriak akan keadilan. Yang entah darimana datangnya, dan yang tak tahu harus berasal dari uluran tangan siapa. Biarkan uang receh menjadi pengharapanku. Impianku hanya satu, membuat kualitas makanan untuk ibu dan adikku, menjadi lebih baik. tanpa ada campuran ketidakjujuran dan menunggu berkah serta rezeki dari Tuhan.