Selasa, 03 Mei 2016

Hardiknas Bukan Hanya Soal “Upacara”


Hardiknas Bukan Hanya Soal “Upacara”

            Sebagai bentuk apresiasi dan cenderung menyadur apa yang selalu mereka lakukan ditanggal 2 mei, dengan segala suka cita saya ucapkan selamat hari Pendidikan Nasional. Semoga hari ini tidak hanya diapresiasi dengan ucapan kata-kata kosong dan kaki-kaki manusia yang berdiri di lapangan pada pagi hari tadi tidaklah sisa-sia. Ya, memang hal tersebut sebagai nilai rasa yang tinggi dalam memperingati Hardiknas. Mencitrakan orang-orang yang bersliweran dalam ruang lingkup pendidikan yang mengerti dan paham bagaimana cara menghargai Hardiknas. Tapi tentu saja hari ini bukanlah hari “Upacara”. Hari pendidikan nasional tidak hanya selesai dengan cara menghormati bendera dibawah terik matahari dan mengenang jasa pahlawan bak hari kemerdekaan. Tentu akan muncul pertanyaan “Lantas bagaimana? Toh dari dulu sudah begitu”.

            Buka cakrawala anda selebar mungkin, jangan merasa nyaman ketika sebenarnya anda hanya berdiri diatas daun talas yang luasnya beberapa jengkal dan terombang-ambing hanya pada satu pusaran. Sehingga dengan mudah melupakan banyak hal yang harus direvisi dan dibenahi secara global. Disini saya tidak pro ataupun kontra dengan pihak manapun, sebagai mahasiswi yang bergelut dalam bidang pendidikan, saya menilai dari kacamata saya sendiri dan setidaknya saya tidak menutup mata dengan pendidikan yang akan menjadi bidang saya kelak. Ini hanya spekulasi dan argumen yang mungkin bersifat pribadi, tetapi saya pasatikan dapat dipertanggungjawabkan dengan potret yang selama ini memang benar terjadi. Dan diperuntukkan untuk siapa ketika saya menggunakan kata “Anda?”, hal itu bukanlah untuk perseorangan dan individual ataupun kelompok tertentu, saya juga tidak akan menambah telunjuk yang telah penuh sesak dimuka pemerintah, cukup mereka saja yang mengacungkan telunjuk dan lagi-lagi menuding pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang mutlak untuk disalahkan. Mau jadi apa? Ketika Negara ini diliputi berbagai permasalahan, setiap manusia seolah berlomba dan hanya mencari yang disalahkna dan siapa yang harus bertanggungjawab. Bukan mencari titik terang berupa solusi, mereka tidak pernah menyadari bahwa dengan begitu hanya akan menambah pesoalan yang akan semakin mengekor, walaupun sejatinya pihak yang besalah selalu berlaku dan menjadi sorotan utama di mata hukum.

            Tetapi dalam dunia pendidikan, yang terpenting bukanlah persoalan siapa yang salah dalam bobroknya pendidikan di Negara ini. Tentu saja pendidikan menjadi hal yang kompleks ketika diperbincangkan. Mengapa bisa demikian? Pendiidkan akan semakin kompleks ketika problematika merajalela disetiap sudut komponennya. Apa itu pendidikan? Dalam definisi telah berkoar-koar baha pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Tetapi yang sebenarnya ada dibenak masyarakat diluar kasta yang mereka miliki, pendidikan adalah “Sesuatu yang mahal”. Pendidikanpun berubah menjadi hal mewah yang hanya berlaku bagi orang-orang yang mengantongi sekian banyak Soekarno disakunya. Dan yang hanya mengenggam Pattimura bahkan logam menjadi awam dengan kata pendidikan dan seolah haram hukumnya walaupun hanya membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan pendidikan. Jika sudah begitu, kelak pendidikan hanya akan dianggap sebagai kebutuhan tersier!

            Sengkarut sistem kurikulum yang seharusnya menjadi patokan dalam berjalannya sistem pembelajaran di sekolah justru hanya dibolak-balik seperti tempe gorang, berharap agar lebih matang tetapi gosong yang didapat! Belum lagi permasalahan pemerataan pendidikan, nun jauh dibagian timur Indonesia sana seolah selalu menjadi kawasan yang sulit untuk dijamah dan terisolasi. Padahal tidak demikian, mereka hanya terkucilkan. Bukan hanya masalah pembangunan, tetapi pemerolehan pendidikan dan intelektual yang seolah hanya diberi jatah secuil saja. Hingga akhrinya dibagian timur selalu berdiri paling belakang terutama dalam hal pendidikan. Bukan suatu hal yang aneh jika kawasan di Indonesia sulit untuk disamaratakan pada pembagian pengetahuan melalui jalur pendidikan karena beberapa faktor lain, seperti ketersediaan pahlawan tanpa tanda jasa yang jarang sekali sudi ditempatkan dititik-titik terpencil seperti dibagian timur karena berbagai alasan. Padahal tidak sedikit yang telah mengabaikan tugas mulia yang dipikulnya, lagi-lagi kesejahteraan menjadi alasan utama. Lantas bagaimana nasib kesejahteraan ilmu yang akan diperoleh peserta didik nantinya? Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gurulah yang memainkan peran paling penting. Ideologi mereka dituntut untuk menghasilkan anak-anak peerus bangsa yang membangun negeri ini menjadi lebih baik. Sekolah adalah lembaga dan tempat untuk melahirkan mereka, tidak sedikit orang-orang besar yang lahir karena proses di sekolahnya. Jangan jadikan sekolah hanya sebagai mesin pencetak ijazah dan pabrik yang memproduksi robot yang akan menambah panjang daftar pengangguran.

            Lantas apa yang salah dengan pendidikan di negeri ini? Mari kita bandingkan dengan Negara yang memiliki pendidikan terbaik di dunia. Bukan Amerika, Inggris, Australia, Jerman, Jepang, ataupun Negara besar dan maju lainnya. Tetapi Negara tersebut adalah Finlandia. Mungkin cukup terdengar asing karena Negara tersebut tidak memiliki andil yang besar dalam dunia seperti Negara yang telah saya sebutkan tadi. Tetapi itulah kenyataannya, Finlandia bukanlah Negara besar, tapi mampu menjadi Negara dengan pendidikan terbaik mengalahkan Negara adidaya lainnya. Bagaimana dengan Negara kita?

            Jangan buat semakin bobrok pondasi pendidikan di negeri ini, untuk apa adanya tripusat pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Tripusat pendidikan bukan hanya pepatah atau istilah semata. Tetapi beliau telah mengisyaratkan harus adanya keterkaitan antara bidang formal (sekolah), informal (keluarga), dan nonformal (masyarakat) dalam membangun pendidikan. Jadi siapapun anda, pasti berperan penting dalam hal pendidikan Karena merupakan anggota dari tripusat tersebut.  Masih banyak lagi persoalan yang tidak akan selesai jika semua orang hanya bisa menuntut dan menuding, kapan kita sadar bahwa kita berdiri dengan tugas masing-masing, jangan meminta contoh konkret, tetapi buatlah contoh konkret itu dalam realita hidup anda sendiri

            Pendidikan merupakan nama dan wadah yang sangat besar untuk pengembangan manusia untuk menjadi lebih baik bermodalan pengetahuan dan pengalaman, tetapi ketika pendidikan hanya dijadikan tempat untuk formalitas dan tanpa adanya upaya untuk membuat orang-orang yang terlibat berguna, maka pendidikan hanya akan menjadi deretan kata tanpa arti yang selalu diperingati dengan cara berupacara bendera pada tanggal 2 Mei, dan akan selalu demikian seterusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar