Sabtu, 11 Juni 2016

Permainan Tradisional Terhapuskan Gadget


Permainan Tradisional Terhapuskan Gadget

            Indonesia kaya akan budaya, dari 33 provinsi yang tersebar di Indonesia, tiap-tiap provinsi itu memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Kebudayaan Indonesia banyak meliputi berbagai macam hal, seperti kesenian, bahasa, pakaian adat, suku bangsa, termasuk pula permainan tradisional. Dengan demikian, Indonesia memiliki jati diri yang beragam tak hanya terpaku pada satu wilayah saja. Menurut Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”. Kebudayaan inilah yang seyogianya harus dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat karena tanpa kita sadari bahwa bila melestarikan kebudayaan, maka kita tidak melupakan adanaya sejarah.
            Tetapi sekarang ini, di Indonesia khususnya. Banyak kebudayaan-kebudayaan lama yang telah jarang digunakan bahkan ditinggalkan. Era 90an dan 2000 bisa dikatakan adalah akhir dari masa kejayaan permainan tradisional yang sangat digandrungi oleh seluruh anak-anak di penjuru Indonesia. Semakin teknologi berkembang pesat dan menjamur di masyarakat, banyak hal yang telah tergeser dan ditinggalkan karena dampak dari teknologi, termasuk salah satunya adalah permainan tradisional seperti Petak umpet, congklak, kelereng, lompat tali, kasti, seolah menjadi kata yang asing bagi anak-anak dan bahkan jarang dimainkan lagi. Padahal dengan bermain permainan tradisional, anak-anak akan lebih menjadi aktif dan tangkas dalam bergerak, melatih kesabaran dan mengasah keberanian dalam bermain, belajar untuk jujur dan menerima kekalahan, tingkat interaksi dengan teman, dunia luar serta lingkungan menjadi tinggi, anak-anak akan memiliki kepribadian yang kreatif dan memiliki keterampilan. Serta masih banyak lagi. Lantas sekarang apakah hal itu masih berlaku bagi anak-anak yang lebih memilih bermain dengan gadget, tablet, ataupun media elektronik lainnya? Mereka tenggelam dengan  aktivitas menyentuh layar, menekan, menggeser ke atas bawah dengan lupa diri akan waktu dan menjadi sosok yang individual tanpa adanya interaksi dengan dunia luar. Mereka hanya akan lihay menggerakkan jari, tidak lebih dari itu.
            Memang tak sepenuhnya teknologi bersalah, karena teknologi ada karena manusia itu sendiri, manusia yang menciptakan, serta manusia pula yang menggunakan. Dan teknologi juga menjadi tolak ukur akan majunya suatu peradaban. Tetapi apakah dengan adaanya penemuan-penemuan baru dalam teknologi harus menggantikan kebudayaan lama? Seperti permainan tradisional misalnya, yang tergeser dengan adanya game-game online serta fitur ataupun apllikasi permainan yang ada pada gadget, yang cara bermainnya tak perlu dengan menggunkan aktivitas fisik yang banyak layaknya bermain dengan yang sebenarnya. Yang hanya perlu duduk dan menyentuh-nyentuh layar saja?
            Menurut data statistik Kominfo, Indonesia termasuk kedalam 5 besar pengguna gadget atau smartphone terbanyak di dunia, dan pengguna game online di Indonesia meningkat 5-10% tiap tahunnya, yang didominasi oleh anak-anak berusia 7-15 tahun. Hal tersebut jelas sangatlah memprihatinkan, Indonesia telah menjadi Negara yang konsumtif dan tidak bisa mengendalikan laju kebutuhan yang tidak pernah memiliki kata cukup. Seandainya Indonesia tak terlalu mengenal kata “Gengsi”, dan masyarakatnya tak gemar mencaci orang-orang yang masih bertahan dengan kebudayaannya, tak mengolok-olok dengan alasan akan tertinggal oleh zaman, tentulah kebudayaan seperti permainan tradisional tidak akan menjadi punah, anak-anak cenderung mengikuti arus, mengekor pada apa yang ada disekitarnya. Ketika semua orang termasuk orang dewasa dan orangtuanya sibuk berselancar dengan gadgetnya, maka bukan tidak mungkin anak-anak akan menduplikasi apa yang mereka lakukan. Ikut tenggelam bersama kecanggihan teknologi dan awam dengan kebudayaan permainan tradisional yang sebentar lagi akan menjadi sejarah.
            Manusia khususnya di Indonesia harus lebih arif dalam menggunakan sesuatu, karena yang baru datang belum tentu lebih baik daripada apa yang sudah ada. Mengetahui, mencoba, dan memiliki gadget tidaklah salah, tetapi akan menjadi salah jika yang mengkonsuminya adalah anak-anak yang seharusnya masih mengenal dunia bermain yang sebenarnya di dunia luar. Bukan didepan layar. Harus ada pembatasan dari orangtua yang membentengi anak-anaknya dan memberikan pengertian dalam penggunaan gadget, Karena bukan hanya masalah kebudayaan permainan tradisional saja yang akan sepi peminat, tetapi pertumbuhan anak-anak akan dipastikan menjadi terganggu, karena sudah dijelaskan bahwa ada lebih banyak manfaat yang didapatkan jika anak-anak masih mengenal dan bermain permainan tradisional yang melimpah di Indonesia pada berbagai daerahnya, tetapi juga tidak awam dengan teknologi yang telah ada, dengan cara memberikan batasan sehingga antara kebudayaan dan perkembangan teknologi akan menjadi seimbang bobotnya, serta memiliki dampak yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar