Rabu, 15 Juni 2016

DESTINASI KEBUDAYAAN di INDRAMAYU

LAPORAN PENELITIAN DESTINASI KEBUDAYAAN di INDRAMAYU

1. Tempat Pelaksanaan : 1. Pendopo Suku Dayak, Desa Krimun Kecamatan                                                                                  Losarang,  Kabupaten Indramayu. dan sanggar tari topeng mimi Rasinah.

2. Waktu Pelakasanaan           : A. Suku Dayak Indramayu
                                                  1. Kamis, 10 Desember 2015
                                                  2. Kamis, 17 Desember 2015
                                                  3. Minggu, 20 Desember 2015
                                                  
                                                  B. Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah
                                                  1. Sabtu, 12 Desember 2015
                                                  2. Minggu, 13 Desember 2015

3. Tujuan Kegiatan                  :  Untuk Mengetahui Keragaman Kebudayaan di Indramayu.
4. Narasumber                         : A. Suku Dayak         :
                                                  1. Bapak Wardi (Salah satu anggota dari Suku Dayak)
                                                  2. Bapak Gembol (Salah satu anggota  dari suku Dayak)
                                                 
                                                  B. Sanggar Tari         :  
                                                  1. Aerli (Cucu dari alm. Mimi Rasinah)
                                                  2. Mimi (Anak dari alm. Mimi Rasinah)
                                                
                       
 1. Suku Dayak

A. Asal-Usul Nama Suku Dayak
            Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu sendiri memiliki arti, Suku yang berarti Kaki, Dayak yang berarti Ramai, Hindu yang berarti di dalam rahim atau kandungan, Bumi yang berarti wujud, Segandu yang berarti seluruh badan, Indramayu berarti inti yang paling dalam Darma terhadap orang tua dan Ayu yang berarti  wanita.
            Bila diartikan secara menyeluruh Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orang tua dan wanita.
            Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu memiliki pengikut cukup banyak dan terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, dikenal dengan nama Dayak alami, yaitu anggota Suku Dayak tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek sebanyak 100 orang. Dan dalam kehidupan sehari-hari, selain menggunakan pernak-pernik suku mereka, seperti gelang tangan, kalung,ikat celana dari ayaman bambu. di leher mereka .“Selain melambangkan negara, Pancasila juga melambangkan persatuan kita semua. Meskipun kita berbeda-beda, namun kita dipersatukan dengan lambang Pancasila. Dan ini wajib kita kenakan” terang Wardi
            Menurut Wardi, Awal berdiri Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu berawal dari perkumpulan perguruan pencak silat yang didirikan kepala suku mereka, Eran Takmad Diningrat Gusti Alam. Keputusan untuk meninggalkan hiruk-pikuk duniawi dan menyebarkan kebaikan dan kesabaran diperoleh Eran setelah menjalani ritual topo bisu dan topo pepe yang hingga kini menjadi ritual wajib yang harus dijalani anggota kelompok ini.
            Awalnya, hanya sang istri dan anak Eran Takmad Diningrat Gusti Alam yang menjadi pengikutnya. Namun, lambat laun ajaran yang mengadopsi salah satu tokoh pewayangan Semar ini mampu menarik perhatian masyarakat.

B. Pemuja Perempuan
            Selain berpenampilan unik, tanpa menggunakan busana baju, dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari, Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu dikenal sebagai suku yang sangat memuja perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, biasannya Kepala Keluarga adalah Laki-laki, namun di suku ini, yang bertindak sebagai Kepala Keluarga adalah perempuan. Termasuk dalam  kartu keluarga, perempuanlah yang tercantum sebagai kepala keluarga. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari,segala aktivitas rumah tangga yang biasannya dikerjakan perempuan, seluruhnya dikerjakan kaum laki-laki. Mulai dari memasak, mencuci, memandikan anak, membersihkan rumah seluruhnya dikerjakan kaum laki-laki.
            Sedangkan kaum perempuan menggantikan tugas suku dayak laki-laki mencari nafkah buat keluargannya. Hingga menghadiri pertemuan warga.
Menurut Wardi, ini dilakukan agar kaum laki-laki merasakan penderitaan yang dipikul kaum perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Termasuk tak jarang, kaum laki-laki bertindak semena-mena terhadap kaum perempuan. Sehingga tabu hukumnya bagi sukunya untuk bertindak kasar.
            “Meskipun kita dibentak-bentak, hingga dipukul sekalipun oleh perempuan, kita tidak akan membalasnya. Apa yang kita alami, tidak sebanding dengan penderitaan perempuan yang harus mengandung hingga 9 bulan dan tak jarang masih oleh kaum lelakinya diperbudak,”ujarnya. Sehingga berapa pun pendapatan yang diberikan istri mereka dalam mencari nafkah, tabu hukumnya bagi kaum laki-laki suku Dayak untuk mencelanya. Namun, meskipun menggantikan tugas kaum perempuan, bukan berati kaum laki-laki tidak bekerja mencari nafkah.Sesudah mengerjakan seluruh aktivitas rumah tangga, menurut Tarxim, kaum laki-laki juga bekerja di luar rumah. Hanya saja, berbeda dengan kaum perempuan, yang bekerja bisa jauh dari tempat tinggalnya, kaum laki-laki ini bekerja tidak jauh dari tempat tinggalnya dan mereka harus kembali ke rumah sebelum anak dan istri mereka pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan.
            “Kita bekerja juga bekerja. Tapi tidak jauh-jauh dari rumah. Kebanyakan kita bekerja di sawah, mengumpulkan barang-barang bekas dan membuat manik-manik untuk keperluan ritual kami,”terang bapak Wardi.
            Masyarakat Indramayu tidak asing mendengar sebutan Suku Dayak Indramayu. Keunikan mereka adalah dari penampilannya yang tidak berbaju dan hanya bercelana pendek serta mengenakan bertopi ala petani. Komunitas eksklusif ini juga kerap disebut Dayak Losarang. Markasnya terletak di RT 13 RW 03, Desa Krimun, Kec. Losarang, atau 300 m dari jalur utama Pantura Indramayu.
            Warga komunitas Suku Dayak Indramayu memang eksklusif. Namun dalam keseharian, mereka terkenal ramah dan suka menolong. Siapa pun yang datang ke pendopo istilah warga Suku Dayak Indramayu menyebut markasnya, pasti disambut dengan tangan terbuka dan keramahan khas ala "Bumi Segandu", polos, lugas, jujur, murni dan apa adanya. Penampilannya aneh. Sehari-hari, baik hujan atau panas, mereka tak pernah memakai baju.
            Yang menempel di tubuhnya hanya celana pendek sedengkul, warna hitam atau hitam padu putih. Rambutnya dibiarkan panjang dan jarang pula mandi. Namun herannya, mereka cukup kebal terhadap berbagai penyakit. Saat musim kemarau datang, mereka melakukan semadi atau tapa di bawah terik matahari. Ritual itu dilakukan sebagai penghormatan terhadap matahari. Selain itu, mereka juga vegetarian alias tak makan daging atau hewan hidup lain. Otomatis, mereka pun menjauhi membunuh binatang, bahkan terhadap seekor cacingpun.

C. Pemimpin Suku Dayak
            Pemimpin mereka adalah Ki Takmad. Didalam komunitas Suku Dayak Indramayu, nama lengkap lelaki berusia 70 tahunan ini adalah Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam. Sepintas lalu, penampilan Ki Takmad dan para pengikutnya bisa aneh dan berkesan menakutkan. Namun ketika sudah terlibat kontak dengan mereka, maka kesan akrab akan didapat.
            Spiritualitas Ki Takmad seperti sinkritisme Hindu, Budha, Jawa Kuno, Islam dan hasil kontempelasi pemikiran orisinilnya, mirip kaum Pagan (Penyembah benda-benda). Komunitas ini menempatkan kaum perempuan pada posisi yang sangat terhormat, sekaligus sebagai sumber inspirasi. “Nyi Dewi Ratu", demikian sebutan personifikasi kekuatan untuk yang maha pemberi hidup atau sumber kehidupan. Bahkan pintu bangunan pendopo komunitas ini, berreliefkan Nyi Dewi Ratu Kembar.
            Dalam sistem sosial dan budaya yang dibangun di lingkungan dayak "Bumi Segandu", posisi dan derajat wanita memang sangat ditinggikan. Karena itu, sekalipun Takmad disegani, dia akan takluk bila berhadapan dengan istrinya. Berkhianat atau berbohong pada istri (wanita) adalah sebuah dosa besar yang tak terampuni. Karena itu pula, bila ada konsep "tuhan" dalam komunitas "Bumi Segandu", manifestasinya ada pada sosok wanita yang disebutnya sebagai "Nyi Dewi Ratu".
            Nyi Dewi Ratu itu menguasai sukma bumi atau hukum-hukum kebenaran yang dibahasakan dengan istilah sejarah alam. Dia harus dipuja dan ditinggikan lewat ngajirasa dan ngadirasa (laku atau amal-amalan). Dalam keseharian, pemujaan terhadap Nyi Dewi Ratu dipraktekan dalam bentuk kesetiaan terhadap istri.
            Ajarannya Takmad tampaknya banyak dipengaruhi konsep kejawen (Hindu-Jawa). Sebagaimana kita tahu, pada pemahaman masyarakat kejawen Pulau Jawa itu dikuasai oleh Dewi-dewi, itu pula kenapa semua penguasa alam di Jawa selalu disimbolkan dengan wanita seperti Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Kidul), Nyi Blorong (Penguasa Gunung Bromo), Dewi Sri (Dewi Padi) dan lain-lain.

 D. Macam-macam Suku Dayak
            Di dalam suku Dayak terdapat beberapa jenis anggota suku dayak yang bermacam-macam, yaitu sebagai berikut :
1. Suku Dayak                                    :
            Adalah Suku Dayak yang menggunakan celana berwarna hitam putih dan tidak menggunakan baju, tetapi perempuannya masih menggunakan baju. Dan juga menggunakan aksesoris seperti gelang, dan kalung yang terbuat dari pring kuning, serta menggunakan topi kerucut.
            Suku dayak ini sudah menganut sistem kepercayaan bahwa mereka menggunakan celana hitam putih yaitu karena berpatok dari filosofi adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, salah dan benar, dan lain-lain. Filososfi tersebut terdapat dalam suatu kitab yang setiap acara ritual dibacakan dan disucikan.
            Mereka menganut kepercayaan, dan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), karena mereka meyakini bahwa semua agama adalah baik, dan mereka sangat menghormati orang-orang dari berbagai kalangan dan agama, tidak melihat dari suku, ras, dan lainnya.

2. Suku Dayak Siswa                          :
            Adalah Suku Dayak yang hampir sama dengan suku dayak dari penjelasan diatas, perbedaannya adalah suku Dayak siswa menggunakan celana berwarna hitam, dan tidak mengenakan pakaian. Sistem kepercayaannya sama, yaitu masih menganut sistem kepercayaan, hanya saja Suku Dayak siswa ini masih awam karena baru masuk ke dalam keanggotaan Suku Dayak.

3. Suku Dayak Preman                       :
            Lain halnya Suku Dayak Preman, golongan Suku Dayak ini berbeda dengan suku Dayak dan Suku Dayak Siswa. Suku Dayak Preman ini masih menggunakan pakaian seperti halnya masyarakat biasa, Suku Dayak ini juga masih mempunyai KTP dan belum menganut sistem kepercayaan, sehingga masih memiliki agama. Untuk kelompok kedua ini yaitu komunitas suku Dayak yang menggunakan pakaian lengkap dan berwarna-warni, jumlahnya cukup banyak dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia

 E. Ritual Suku Dayak
            Ritual yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu, dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu, kaum perempuan duduk berselonjor di luar pendopo. ritual awal biasa digelar pada minggu pertama bulan pertama atau setiap malam Jumat kliwon,selama 4 bulan lima hari ini, hanya diikuti Dayak Alami yang beranggotakan 100 orang. “Kenapa dimulai setiap malam jumat kliwon, karena alam menyampaikan pesannya setiap malam itu dan secara terus menerus.
            Ritual diawali dengan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana 2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana, uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana ada pada saya ada pada kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar, benar, jujur, nerima.
            Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual berendam ini disebutkungkum.
            Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.
Medar menceritakan cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at.
            Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.

2. Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah

A. Profil Mimi Rasinah (Pendiri Tari Topeng Indramayu)
            Dari kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Pada umur 5 tahun ia sudah diajarkan menari oleh ayahnya yang berprofesi sebagai dalang dan ibunya yang berprofesi sebagai dalang ronggeng. Menginjak Mimi Rasinah berusia 7 tahun, ia mulai berkeliling untuk bebarangan atau mengamen tari topeng. Ketika bangsa Jepang sampai ke Indramayu, rombongan topeng ayahnya dituduh oleh Jepang sebagai mata-mata, sehingga semua aksesori tari topeng dimusnahkan oleh bangsa Jepang hingga hanya satu topeng saja.         Baru pada 1994, Endo Suanda dan seorang rekannya sesama dosen di STSI Bandung, Toto Amsar Suanda, "menemukan kembali" Rasinah. tarian topeng Kelana yang dipertunjukkan Rasinah membuat keduanya terpesona. Aura magis yang ada, serta karakter yang berubah-ubah sesuai dengan karakter 8 topeng yang ada, dari mulai topeng panji sampai kelana, membuatnya terpesona. Seketika itu juga semangat Rasinah untuk menari kembali bangkit, dan Rasinah mulai kembali berpentas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak yang menyebutnya klasik. Mimi Rasinah juga aktif mengajarkan tari topeng ke sekolah-sekolah yang ada di Indramayu
            Pada tahun 2006, Rasinah jatuh pada saat mengambil air wudhu setelah mengajar tari di sebuah sekolah di Indramayu. Dua pekan setelah dirawat di RSHS, Mimi mengakhiri jalan tarinya. Ia mewariskan seluruh topeng dan aksesorinya kepada Aerli Rasinah, sang cucu penerus, dalam sebuah upacara yang mengharukan sekali. Pada 15 Maret Aerli harus bebarangan di tujuh tempat dalam sehari sebagai syarat untuk meneruskan Mimi Rasinah. Sejak hari itu, keberadaan sanggar pun berada di pundah mahasiswa STSI Bandung berusia 22 tahun ini.
            Meski sebagian tubuhnya lumpuh akibat stroke, namun semangat Rasinah untuk menari tetap ada, Rasinah berkata "Saya akan berhenti menari kalau sudah mati". Hal ini dibuktikan pada tarian terakhirnya, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran "Indramayu dari Dekat", setelah tarian itu dia dia jatuh sakit dan dirawat di RSUD Indramayu. Pada tanggal 7 Agustus 2010 Mimi Rasinah akhirnya meninggal dunia, namun aktivitas menari di sanggar tarinya masih tetap berjalan.
            Mimi Rasinah dikebumikan di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu pada hari Minggu, 08/08/2010 sekitar pukul 9:00 WIB. Ratusan iring-iringan pelayat mengantarkan kepergian sang maestro yang namanya telah mendunia karena tari topengnya. Prosesi pemakaman maestro tari topeng Indramayu berlangsung secara sederhana. Warga yang turut mengantar jasad sang maestro topeng gaya Indramayu sampai diperistirahatannya yang terakhir. Namun hanya sejumlah seniman dan pejabat setempat yang hadir untuk mengikuti prosesi pemakaman.

B. Penerus Tari Topeng Mimi Rasinah
            Semasa hidupnya Mimi Rasinah meminta kesediaan Aerli untuk belajar sungguh-sungguh dan meneruskan tradisi yang memang diwarisi di dalam keluarga secara turun temurun dalam sebuah seremoni simbolis dengan pentas di pelataran di dalam kompleks makam Sunan Gunung Jati.
            Memang usianya masih muda, lahir 1985 silam. Namun jika bicara soal prestasi dan pengalamannya di tari topeng, sepertinya tak berlebihan jika mengacungkan dua jempol. Dia adalah Aerli Rasinah, cucu sekaligus pewaris tari topeng Mimi Rasinah.
Ketika kami Menemui Mba Aerli di Sanggar tari topeng Mimi Rasinah, beliau mengungkapkan alasannya mengambil jalan hidup meneruskan dan melestarikan tari topeng dari sang nenek. "Kalau kita sudah enggak kuat, ya hilang (kesenian tari topeng)," ungkapnya.
            Meski nama Aerli sudah besar di dunia seni tari topeng, namun tak sebanding dengan kondisi sanggar. Ukuran sanggar sekitar 5x7 meter persegi. Di sudut ruangan terjauh dari pintu masuk, terdapat seperangkat alat musik gamelan. Di sampingnya ada etalase kaca berisi tumpukan seragam tari yang biasa digunakan untuk latihan.
            Sambil duduk lesehan di sanggar, Aerli menceritakan pengalamannya menjadi penerus tahta tari topeng Mimi Rasinah. Bahwa, perkara mudah mendapatkan amanah dari sang nenek. Yang susah justru mempertahankan dan meneguhkan hati untuk meneruskan dan melestarikan kesenian tari topeng.
           
C. Waktu Latihan Tari Topeng
            Sanggar Mimi Rasinah membuka kursus menari tari topeng untuk masyarakat Indramayu. Pelatihnya adalah Aerli (Cucu dari Alm.Mimi Rasinah) dan dibantu sanak keluarga yang lain untuk memainkan musik gamelan. Proses latihan dibagi menjadi dua jenis. Yaitu sebagai berikut :
            1. Yang pertama adalah kelas mandiri, yaitu proses latihan dilakukan pada jadwal yang ditentukan sendiri oleh penari yang ingin melakukan latihan. Dan jumlah yang latihan terkadang hanya sendiri ataupun beberapa orang saja. dan biaya untuk kelas mandiri ini sebesar Rp.25.000 untuk satu kali pertemuan.
            2. Kemudian ada kelas mingguan, yaitu proses latihan yang dilakukan rutin pada hari minggu yang dimulai pada pukul 09.00-12.00 siang. Biasanya yang mengikuti latihan pada kelas mingguan ini adalah anak-anak kecil yang didampingi oleh orangtuanya saat mengikuti latihan. Dan jumlah yang latihan lebih banyak jika dibandingkan dengan kelas mandiri. Biaya untuk kelas rutin ini sebesar Rp.20.000 untuk satu kali pertemuan.

3. Hambatan-hambatan
A. Suku Dayak
            1. Lokasi cukup jauh, sehingga membuat kami harus menempuh jarak dengan         waktu yang cukup lama karena lokasi padepokan Suku Dayak berada di desa            Losarang.
            2. Kekurangan informasi mengenai ritual yang dilakukan oleh suku Dayak,             sehingga          pada satu hari yang sama kelompok kami pulang pergi ke desa             Losarang hingga dua   kali dan selesai meliput pada tengah malam.
            3. Pada hari ketiga meliput, ternyata narasumber sedang berada diluar kota,            sehingga          kami harus menunggu hingga beberapa hari untuk meliput kembali.
            4. Saat meliput kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Suku Dayak, tempat yang            menjadi lokasi mata pencaharian mereka cukup jauh dan saat pulang hujan deras.
         5. Karena proses pengeditan video dilakukan oleh kelompok kami sendiri tanpa     menggunakan jasa pengeditan video oleh orang lain, maka waktu yang digunakan        hingga pengeditan selesai cukup memakan waktu yang lama.

B. Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah
            1. Saat hari pertama meliput, narasumber tidak berada ditempat walaupun kami      sudah   membuat janji karena ada pekerjaan mendadak. (mengisi acara tari topeng di Cirebon)





RPP Kurtilas SMK Bahasa Indonesia


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SatuanPendidikan       : SMK
Kelas/Semester            : X/II
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Topik                           : Teks Prosedur Kompleks
Jumlah Pertemuan       : 1 x Pertemuan

A.    Kompetensi Inti
KI 1   Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,  peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora. Dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena, dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI4 Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar dan  Pencapaian Indikator
            1.1 Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan     menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam memahami, menerapkan, dan        menganalisis informasi lisan dan tulis melalui teks anekdot, laporan hasil observasi,           prosedur kompleks, dan negoisasi.
2.1 Menunjukkan sikap tanggungjawab, peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot mengenai permasalahan sosial lingkungan dan kebijakan publik.
3.1 Memahami struktur dan kaidah teks prosedur kompleks baik melalui lisan maupun tulisan.
Indikator : Mengetahui struktur teks prosedur kompleks
4.1 Menginterpretasi makna teks prosedur kompleks baik secara lisan maupun tulisan.
Indikator : Memahami isi dan ciri teks prosedur kompleks.
C. Tujuan Pembelajaran
            1. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menghargai dan mensyukuri          keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa sebagai sarana   memahami informasi lisan dan tulis.
            2. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa menghargai dan mensyukuri        keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana    menyajikan informasi lisan dan tulis.
            3. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menunjukkan sikap jujur,   tanggung jawab, dan santun dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam membaca      teks prosedur kompleks.
            4. Setelah membaca teksprosedurdan mendiskusikannya siswa dapat mengetahui isi           dari teks prosedur baik secara lisan maupun tulisan.
            5. Setelah membaca teksprosedurdan mendiskusikannya siswa dapat mengetahui dan        mengenali ciri dari teks prosedur baik secara lisan maupun tulisan.

D. Materi Pembelajaran
            Teks Prosedur Kompleks
            1. Teks prosedur kompleks merupakan adalah langkah-langkah atau tahap-tahap yang        harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Baik membuat sesuatu, menggunakan          sesuatu, melakukan sesuatu dan lain sebagainya.
            2. Ciri-ciri teks prosedur :
a.       Menggunakan pola kalimat perintah,
b.      Menggunakan kata kerja aktif,
c.       Menggunakan kata penghubung (konjungsi) untuk mengurutkan kegiatan,
d.      Menggunakan kata keterangan untuk menyatakan rinci waktu, tempat, dan cara yang akurat.
Contoh teks Prosedur mengurus kartu pelajar (Terlampir)
        
E. Alokasi Waktu
            1 x 45 Menit

F. Metode dan Model Pembelajaran.
·         Pendekatan Scientific
·         Diskusi kelompok dan Penugasan
·         Tanya jawab

G. Media, Alat dan Sumber Belajar
a. Media                      : Tayangan ppt dan contoh teks prosedur.
b. Alat                         : Laptop, infocus.
c. Sumber belajar         : Buku paket dan Internet.
Sutopo, Maryati. 2008. Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: PusatPerbukuan, DepartemenPendidikanNasional.
Akhadiah, Sabardi. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
 Krisdianto, Anang, S.Pd. 2006. Bahasa Indonesia: SMA/MA kelas X. Tiga Kota. Yogyakarta: CV. Gramedia Dua Tujuh.

H. Kegiatan Pembelajaran
KEGIATAN
DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI WAKTU
Pendahuluan
1. Siswa merespon salam dari guru dan menjawab pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.
2. Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.Siswa menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
5 Menit
Inti
Mengamati
1. Siswa mencermati setiap bacaan teks yang ada dalam buku siswa halaman 50.
2. Siswa membaca atau melakukan kajian pustaka terhadap beberapa teks prosedur yang diberikan oleh guru.
3. Siswa mengamati tayangan yang berisi teks prosedur yang ditayangkan oleh guru.
4. Siswa membentuk kelompok kecil, 1 kelompok beranggotakan 3 orang.

Menanya
1. Antarsiswa dalam kelompok saling bertanya tentang contoh teks prosedur yang dibagikan oleh guru untuk masing-masing kelompok, teks prosedur kompleks yang dibagikan merupakan teks yang masih rancu, dan berbeda untuk setiap kelompok.
2. Setiap siswa dalam kelompok saling bertanya dan berdiskusi mengenai ciri dari teks prosedur yang telah didapat.
Mencoba
1.Siswa mencoba merumuskandan menganalisis struktur dan penggunaan kaidah bahasa Indonesia dalam teks  prosedur yang telah didiskusikannya dengan teman kelompokdan bertukar pikiran bersama anggota kelompok.
2. Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan teks prosedur yang dibacanya.
Mengomunikasikan
1.Perwakilan masing-masing kelompokmenyampaikan hasil kerja masing-masing.
2.    Kelompok lain  menanggapi dengan responsif dan santun.
3. Siswa mendengarkan umpan balik dan penguatan dari guru.

35 menit
Penutup
1. Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran.
2. Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
3. Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran.
5 Menit


I. Penilaian Proses dan Hasil Belajar
a.    Penilaian Sikap
No
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
Instrumen Penilaian
Keterangan
1.
Religius
Pengamatan
Proses






Lembar Pengamatan
Hasil penilaian nomor 4 untuk masukan pembinaan dan informasi bagi Guru Agama dan Guru PKn
2.
Tanggung jawab
3.
Peduli
4.
Responsif
5.
Santun
6
Kedisiplinan
.
b.   Penilaian Pengetahuan
Indikator
Pencapaian Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Instrumen

Score
Mengetahui struktur teks prosedur kompleks

Tes tertulis
Tes uraian
1.        Bacalah dengan saksama teks prosedur kompleks,  Urutkanlah teks      prosedur kompleks tersebut dengan urutan yang tepat!
     10
Tes tertulis

Tes uraian


2.      Tentukan jenis teks prosedur kompleks tersebut!
20



Mengetahui dan mengenali ciri teks prosedur kompleks.
Tes tertulis
Tes uraian
3.      Identifikasikanlah dan jelaskan ciri pada teks prosedur kompleks tersebut!

30


Mengetahui isi teks prosedur kompleks
Tes tertulis
Tes uraian
4.      Identifikasikanlah dan jelaskan struktur isi teks prosedur kompleks!
40


c. Penilaian Hasil Kerja Siswa
No
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
Instrumen
Keterangan
1
Lembar kerja siswa
a. Ketepatan jawaban
b. Kebahasaan
c. Kerapihan
Selama dan setelah proses pembelajaran.
Lembar Pengamatan
-

Kunci Jawaban :

1. Jenis dari teks prosedur kompleks tersebut adalah teks prosedur kompleks membuat sesuatu, karena terdapat langkah-langkah kronologis untuk mencapai sebuah tujuan, yakni membuat kartu pelajar.
2. 6,3,4,1,5,2
3. Urutan yang tepat pada teks prosedur kompleks tersebut adalah:6,3,4,1,5,2. Karena apabila diurutkan dengan menggunakan urutan tersebut, struktur isi dan tujuan dari teks prosedur kompleks akan sesuai dengan langkah-langkah yang seharusnya dilakukan.
4. A. Menggunakan kalimat imperative atau kalimat perintah.
B. Berupa urutan kronologis untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
C.  Menggunakan kata penghubung (konjungsi) untuk mengurutkan kegiatan
D. Menggunakan kata keterangan untuk menyatakan rinci waktu, tempat, dan cara

B.     Sumber Belajar
BukuPaket:Sutopo,Maryati. 2008. Bahasa Indonesia: SMK/MA Kelas X. Jakarta: PusatPerbukuan, DepartemenPendidikanNasional.
Buku Paket: Akhadiah, Sabardi. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Lk: Krisdianto, Anang, S.Pd. 2006. Bahasa Indonesia: SMA/MA kelas X. Tiga Kota. Yogyakarta: CV. Gramedia Dua Tujuh.

Lampiran
Soal Teks Prosedur Kompleks Mengurus Kartu Pelajar
Langkah-langkah :
1. Datanglah ke kantor tata usaha di sekolah Anda
2. Mintalah blanko untuk kartu pelajar kepada petugas yang berjaga
3. Isilah data yang tertera pada blanko  dengan benar dan jujur
4. Setelah blanko selesai Anda isi, serahkan kepada petugas yang berjaga
          5. Setelah itu, Anda akan memasuki ruang pengambilan foto           
6. Setelah selesai berfoto, kartu pelajar akan jadi kurang lebih dua minggu

Indramayu, Mei 2016
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia



Vemy Rida Riawan M. Pd.

Di susun oleh
1.      Vemy Rida Riawan
2.      Wiwin Widiyawati
3.      Ahmad Faisal Amri

Semester II A