Lunturnya
Antusiasme Peserta Didik dalam Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan.
Bulan
suci ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan dan berkah. Semua manusia
berlomba-lomba untuk menjalankan kegiatan Ibadah seperti puasa, sholat,
mengaji, sedekah dan lain sebagainya karena pahala yang diperoleh akan
dilipatgandakan. Pengetahuan tersebut adalah bekal utama khususnya untuk meyakinkan
peserta didik agar mau beribadah dengan baik di bulan suci ramadhan. Itu juga
dilakukan oleh pihak sekolah, terutama kepada tugas seorang guru, yang bukan hanya
memberikan materi akademis, tetapi guru juga bertugas untuk membentuk karakter
siswa-siswanya menjadi lebih baik lagi. Salah satunya dengan cara memanfaatkan
bulan ramadhan untuk mengarahkan siswanya melakukan kegiatan yang positif atau
beribadah, sehingga siswa memiliki pandangan yang baik dan memiliki keinginan
untuk beribadah lebih daripada hari-hari biasanya. Upaya guru dalam mewujudkan
hal tersebut adalah misalnya dengan mengadakan kegiatan pesantren kilat selama
bulan suci ramadhan, dan yang paling sering adalah membagikan angket untuk
diisi para siswa berkaitan dengan apa saja ibadah yang telah mereka lakukan
dari hari pertama puasa hingga akhir. Contoh kecilnya adalah menuntut siswa
untuk menjalankan sholat subuh karena harus menuliskan ceramah yang biasanya
disampaikan oleh ustadz setelah sholat berlangsung,, juga meminta paraf atau tanda tangan dari
ustadz yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat
anak atau siswa lebih baik yang diupayakan oleh pihak sekolah.
Tapi
seiring bergulirnya waktu, banyak anak-anak atau siswa yang cenderung tidak
tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pada bulan ramadhan tersebut, baik
yang diadakan oleh sekolah maupun di lingkungan sosialnya. Masjid tak lagi
penuh oleh anak-anak ataupun para remaja, justru cenderung didominasi oleh
orangtua. Bahkan kegiatan tadarus setelah sholat tarawih sudah jarang
dilakukan, walaupun masih ada anak-anak yang melakukan tadarus, tetapi biasanya
jumlah yang hadir tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang berdomisili pada
sekitar masjid tersebut. mengapa demikian? Antusiasme anak atau peserta didik
justru semakin berkurang, berbeda dengan pada saat sebelumnya. Peserta didik
selalu bersemangat untuk mengisi angket yang diberikan oleh gurunya, sehingga
memacu dirinya untuk selalu beribadah. Tapi saat ini kegiatan mengisi angketpun
sudah jarang dilakukan. Bahkan tidak sedikit pelajar yang secara
terang-terangan tidak berpuasa dan berkumpul di warung makan yang bertirai.
Mereka beramai-ramai makan dan merokok dengan masih mengenakan seragam sekolah.
Tentu
saja terdapat faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya antusiasme peserta didik
tersebut. diantaranya adalah :
1. Didikan Orangtua
Kembali
lagi pada tempat belajar pertama peserta didik, yaitu lingkungan informal
atau keluarga. Hal ini yang menjadi
faktor pertama, karena apabila peserta didik mendapatkan didikan dan pengarahan
dari orangtuanya mengenai beribadah di bulan ramadhan, maka peserta didik
memiliki antusiasme karena dari awal telah dibekali pendidikan mengenai agama
oleh orangtuanya, terlebih lagi jika yang nantinya akan didukung oleh pihak
sekolah.
2. Pergeseran Sosial Budaya
Anak
ataupun peserta didik biasanya menduplikasi apa yang mereka lihat, baik itu
pada keluarga dan terlebih lagi pada lingkungan sosial masyarakat disekitarnya.
Jika budaya yang identik dengan kebersamaan di masyarakat masih terjaga,
biasanya peserta didik juga akan mengikuti hal tersebut. tetapi pada
kenyataanya banyak lingkungan masyarakat yang menganggap ibadah puasa adalah
ibadah untuk perseorangan, sehingga sudah jarang dilakukannya buka bersama di
masjid-masjid, kegiatan tadarus, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
kebersamaan.
3. Lingkungan.
Sudah
bukan merupakan sesuatu yang aneh lagi jika lingkungan merupakan faktor yang
turut andil dalam menurunnya antusiasme peserta didik dalam beribadah. Pengaruh
nativisme ini sangatlah besar, bahkan realitanya bisa melebihi pengaruh yang
didapatkan dari keluarga. Walaupun keluarga atau orangtua memberikan didikan
yang baik, tetapi apabila lingkungannya tidak mendukung atau berpotensi untuk
memengaruhi terhadap hal-hal yang buruk, maka peserta didik akan terpengaruh.
4. Pengaruh Perkembangan
Teknologi.
Semakin
berkembangnya teknologi memang merupakan suatu hal yang baik. Tetapi pasti
memiliki dampak negatifnya juga. Salah satunya yaitu dapat memengaruhi
menurunnya antusiasme peserta didik. Contoh kecilnya adalah peserta didik akan
merasa malas melaksanakan sholat tarawih, tadarus, ataupun ibadah lainnya
karena terlalu sibuk bermain gadget dan berselancar dimedia sosial. Anak zaman
sekarang cenderung kurang dapat menggunakan teknologi secara bijak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar