Rabu, 15 Juni 2016

Lunturnya Antusiasme Peserta Didik dalam Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan.


Lunturnya Antusiasme Peserta Didik dalam Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan.
           
            Bulan suci ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan dan berkah. Semua manusia berlomba-lomba untuk menjalankan kegiatan Ibadah seperti puasa, sholat, mengaji, sedekah dan lain sebagainya karena pahala yang diperoleh akan dilipatgandakan. Pengetahuan tersebut adalah bekal utama khususnya untuk meyakinkan peserta didik agar mau beribadah dengan baik di bulan suci ramadhan. Itu juga dilakukan oleh pihak sekolah, terutama  kepada tugas seorang guru, yang bukan hanya memberikan materi akademis, tetapi guru juga bertugas untuk membentuk karakter siswa-siswanya menjadi lebih baik lagi. Salah satunya dengan cara memanfaatkan bulan ramadhan untuk mengarahkan siswanya melakukan kegiatan yang positif atau beribadah, sehingga siswa memiliki pandangan yang baik dan memiliki keinginan untuk beribadah lebih daripada hari-hari biasanya. Upaya guru dalam mewujudkan hal tersebut adalah misalnya dengan mengadakan kegiatan pesantren kilat selama bulan suci ramadhan, dan yang paling sering adalah membagikan angket untuk diisi para siswa berkaitan dengan apa saja ibadah yang telah mereka lakukan dari hari pertama puasa hingga akhir. Contoh kecilnya adalah menuntut siswa untuk menjalankan sholat subuh karena harus menuliskan ceramah yang biasanya disampaikan oleh ustadz setelah sholat berlangsung,,  juga meminta paraf atau tanda tangan dari ustadz yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat anak atau siswa lebih baik yang diupayakan oleh pihak sekolah.
            Tapi seiring bergulirnya waktu, banyak anak-anak atau siswa yang cenderung tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pada bulan ramadhan tersebut, baik yang diadakan oleh sekolah maupun di lingkungan sosialnya. Masjid tak lagi penuh oleh anak-anak ataupun para remaja, justru cenderung didominasi oleh orangtua. Bahkan kegiatan tadarus setelah sholat tarawih sudah jarang dilakukan, walaupun masih ada anak-anak yang melakukan tadarus, tetapi biasanya jumlah yang hadir tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang berdomisili pada sekitar masjid tersebut. mengapa demikian? Antusiasme anak atau peserta didik justru semakin berkurang, berbeda dengan pada saat sebelumnya. Peserta didik selalu bersemangat untuk mengisi angket yang diberikan oleh gurunya, sehingga memacu dirinya untuk selalu beribadah. Tapi saat ini kegiatan mengisi angketpun sudah jarang dilakukan. Bahkan tidak sedikit pelajar yang secara terang-terangan tidak berpuasa dan berkumpul di warung makan yang bertirai. Mereka beramai-ramai makan dan merokok dengan masih mengenakan seragam sekolah.
            Tentu saja terdapat faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya antusiasme peserta didik tersebut. diantaranya adalah :
1. Didikan Orangtua
            Kembali lagi pada tempat belajar pertama peserta didik, yaitu lingkungan informal atau  keluarga. Hal ini yang menjadi faktor pertama, karena apabila peserta didik mendapatkan didikan dan pengarahan dari orangtuanya mengenai beribadah di bulan ramadhan, maka peserta didik memiliki antusiasme karena dari awal telah dibekali pendidikan mengenai agama oleh orangtuanya, terlebih lagi jika yang nantinya akan didukung oleh pihak sekolah.
2. Pergeseran Sosial Budaya
            Anak ataupun peserta didik biasanya menduplikasi apa yang mereka lihat, baik itu pada keluarga dan terlebih lagi pada lingkungan sosial masyarakat disekitarnya. Jika budaya yang identik dengan kebersamaan di masyarakat masih terjaga, biasanya peserta didik juga akan mengikuti hal tersebut. tetapi pada kenyataanya banyak lingkungan masyarakat yang menganggap ibadah puasa adalah ibadah untuk perseorangan, sehingga sudah jarang dilakukannya buka bersama di masjid-masjid, kegiatan tadarus, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebersamaan.
3. Lingkungan.
            Sudah bukan merupakan sesuatu yang aneh lagi jika lingkungan merupakan faktor yang turut andil dalam menurunnya antusiasme peserta didik dalam beribadah. Pengaruh nativisme ini sangatlah besar, bahkan realitanya bisa melebihi pengaruh yang didapatkan dari keluarga. Walaupun keluarga atau orangtua memberikan didikan yang baik, tetapi apabila lingkungannya tidak mendukung atau berpotensi untuk memengaruhi terhadap hal-hal yang buruk, maka peserta didik akan terpengaruh.
4. Pengaruh Perkembangan Teknologi.
            Semakin berkembangnya teknologi memang merupakan suatu hal yang baik. Tetapi pasti memiliki dampak negatifnya juga. Salah satunya yaitu dapat memengaruhi menurunnya antusiasme peserta didik. Contoh kecilnya adalah peserta didik akan merasa malas melaksanakan sholat tarawih, tadarus, ataupun ibadah lainnya karena terlalu sibuk bermain gadget dan berselancar dimedia sosial. Anak zaman sekarang cenderung kurang dapat menggunakan teknologi secara bijak.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar