LAPORAN PENELITIAN DESTINASI
KEBUDAYAAN di INDRAMAYU
1. Tempat
Pelaksanaan : 1. Pendopo Suku
Dayak, Desa Krimun Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. dan sanggar tari topeng mimi Rasinah.
2. Waktu
Pelakasanaan : A. Suku Dayak
Indramayu
1. Kamis, 10 Desember 2015
2. Kamis, 17 Desember 2015
3. Minggu, 20 Desember 2015
B.
Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah
1. Sabtu, 12 Desember 2015
2. Minggu, 13 Desember 2015
3. Tujuan
Kegiatan : Untuk Mengetahui
Keragaman Kebudayaan di Indramayu.
4. Narasumber :
A. Suku Dayak :
1. Bapak Wardi (Salah satu anggota dari Suku Dayak)
2. Bapak Gembol (Salah satu anggota dari suku Dayak)
B. Sanggar Tari :
1. Aerli (Cucu dari alm. Mimi Rasinah)
2. Mimi (Anak dari alm. Mimi Rasinah)
1.
Suku Dayak
A.
Asal-Usul Nama Suku Dayak
Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu
Indramayu sendiri memiliki arti, Suku yang berarti Kaki, Dayak yang
berarti Ramai, Hindu yang berarti di dalam rahim atau kandungan, Bumi
yang berarti wujud, Segandu yang berarti seluruh badan, Indramayu
berarti inti yang paling dalam Darma terhadap orang tua dan Ayu yang
berarti wanita.
Bila diartikan secara menyeluruh Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orang tua dan wanita.
Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu memiliki pengikut cukup banyak dan terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, dikenal dengan nama Dayak alami, yaitu anggota Suku Dayak tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek sebanyak 100 orang. Dan dalam kehidupan sehari-hari, selain menggunakan pernak-pernik suku mereka, seperti gelang tangan, kalung,ikat celana dari ayaman bambu. di leher mereka .“Selain melambangkan negara, Pancasila juga melambangkan persatuan kita semua. Meskipun kita berbeda-beda, namun kita dipersatukan dengan lambang Pancasila. Dan ini wajib kita kenakan” terang Wardi
Bila diartikan secara menyeluruh Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orang tua dan wanita.
Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu memiliki pengikut cukup banyak dan terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, dikenal dengan nama Dayak alami, yaitu anggota Suku Dayak tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek sebanyak 100 orang. Dan dalam kehidupan sehari-hari, selain menggunakan pernak-pernik suku mereka, seperti gelang tangan, kalung,ikat celana dari ayaman bambu. di leher mereka .“Selain melambangkan negara, Pancasila juga melambangkan persatuan kita semua. Meskipun kita berbeda-beda, namun kita dipersatukan dengan lambang Pancasila. Dan ini wajib kita kenakan” terang Wardi
Menurut Wardi, Awal berdiri Suku
Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu berawal dari perkumpulan perguruan
pencak silat yang didirikan kepala suku mereka, Eran Takmad Diningrat Gusti
Alam. Keputusan untuk meninggalkan hiruk-pikuk duniawi dan menyebarkan kebaikan
dan kesabaran diperoleh Eran setelah menjalani ritual topo bisu dan topo pepe
yang hingga kini menjadi ritual wajib yang harus dijalani anggota kelompok ini.
Awalnya, hanya sang istri dan anak Eran Takmad Diningrat Gusti Alam yang menjadi pengikutnya. Namun, lambat laun ajaran yang mengadopsi salah satu tokoh pewayangan Semar ini mampu menarik perhatian masyarakat.
Awalnya, hanya sang istri dan anak Eran Takmad Diningrat Gusti Alam yang menjadi pengikutnya. Namun, lambat laun ajaran yang mengadopsi salah satu tokoh pewayangan Semar ini mampu menarik perhatian masyarakat.
B. Pemuja Perempuan
Selain berpenampilan unik, tanpa
menggunakan busana baju, dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari, Suku Dayak
Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu dikenal sebagai suku yang sangat memuja
perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, biasannya Kepala Keluarga
adalah Laki-laki, namun di suku ini, yang bertindak sebagai Kepala Keluarga
adalah perempuan. Termasuk dalam kartu keluarga, perempuanlah yang
tercantum sebagai kepala keluarga. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari,segala
aktivitas rumah tangga yang biasannya dikerjakan perempuan, seluruhnya
dikerjakan kaum laki-laki. Mulai dari memasak, mencuci, memandikan anak,
membersihkan rumah seluruhnya dikerjakan kaum laki-laki.
Sedangkan kaum perempuan
menggantikan tugas suku dayak laki-laki mencari nafkah buat keluargannya.
Hingga menghadiri pertemuan warga.
Menurut Wardi, ini dilakukan agar kaum laki-laki merasakan penderitaan yang dipikul kaum perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Termasuk tak jarang, kaum laki-laki bertindak semena-mena terhadap kaum perempuan. Sehingga tabu hukumnya bagi sukunya untuk bertindak kasar.
Menurut Wardi, ini dilakukan agar kaum laki-laki merasakan penderitaan yang dipikul kaum perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Termasuk tak jarang, kaum laki-laki bertindak semena-mena terhadap kaum perempuan. Sehingga tabu hukumnya bagi sukunya untuk bertindak kasar.
“Meskipun kita dibentak-bentak,
hingga dipukul sekalipun oleh perempuan, kita tidak akan membalasnya. Apa yang
kita alami, tidak sebanding dengan penderitaan perempuan yang harus mengandung
hingga 9 bulan dan tak jarang masih oleh kaum lelakinya diperbudak,”ujarnya. Sehingga
berapa pun pendapatan yang diberikan istri mereka dalam mencari nafkah, tabu
hukumnya bagi kaum laki-laki suku Dayak untuk mencelanya. Namun, meskipun
menggantikan tugas kaum perempuan, bukan berati kaum laki-laki tidak bekerja
mencari nafkah.Sesudah mengerjakan seluruh aktivitas rumah tangga, menurut
Tarxim, kaum laki-laki juga bekerja di luar rumah. Hanya saja, berbeda dengan
kaum perempuan, yang bekerja bisa jauh dari tempat tinggalnya, kaum laki-laki
ini bekerja tidak jauh dari tempat tinggalnya dan mereka harus kembali ke rumah
sebelum anak dan istri mereka pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan.
“Kita bekerja juga bekerja. Tapi tidak
jauh-jauh dari rumah. Kebanyakan kita bekerja di sawah, mengumpulkan
barang-barang bekas dan membuat manik-manik untuk keperluan ritual kami,”terang
bapak Wardi.
Masyarakat Indramayu tidak asing
mendengar sebutan Suku Dayak Indramayu. Keunikan mereka adalah dari
penampilannya yang tidak berbaju dan hanya bercelana pendek serta mengenakan
bertopi ala petani. Komunitas eksklusif ini juga kerap disebut Dayak Losarang.
Markasnya terletak di RT 13 RW 03, Desa Krimun, Kec. Losarang, atau 300 m dari
jalur utama Pantura Indramayu.
Warga
komunitas Suku Dayak Indramayu memang eksklusif. Namun dalam keseharian, mereka
terkenal ramah dan suka menolong. Siapa pun yang datang ke pendopo istilah
warga Suku Dayak Indramayu menyebut markasnya, pasti disambut dengan tangan
terbuka dan keramahan khas ala "Bumi Segandu", polos, lugas, jujur,
murni dan apa adanya. Penampilannya aneh. Sehari-hari, baik hujan atau panas,
mereka tak pernah memakai baju.
Yang
menempel di tubuhnya hanya celana pendek sedengkul, warna hitam atau hitam padu
putih. Rambutnya dibiarkan panjang dan jarang pula mandi. Namun herannya,
mereka cukup kebal terhadap berbagai penyakit. Saat musim kemarau datang,
mereka melakukan semadi atau tapa di bawah terik matahari. Ritual itu dilakukan
sebagai penghormatan terhadap matahari. Selain itu, mereka juga vegetarian
alias tak makan daging atau hewan hidup lain. Otomatis, mereka pun menjauhi
membunuh binatang, bahkan terhadap seekor cacingpun.
C. Pemimpin Suku Dayak
Pemimpin mereka adalah Ki Takmad.
Didalam komunitas Suku Dayak Indramayu, nama lengkap lelaki berusia 70 tahunan
ini adalah Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam. Sepintas lalu, penampilan Ki
Takmad dan para pengikutnya bisa aneh dan berkesan menakutkan. Namun ketika sudah
terlibat kontak dengan mereka, maka kesan akrab akan didapat.
Spiritualitas
Ki Takmad seperti sinkritisme Hindu, Budha, Jawa Kuno, Islam dan hasil
kontempelasi pemikiran orisinilnya, mirip kaum Pagan (Penyembah benda-benda).
Komunitas ini menempatkan kaum perempuan pada posisi yang sangat terhormat,
sekaligus sebagai sumber inspirasi. “Nyi Dewi Ratu", demikian sebutan
personifikasi kekuatan untuk yang maha pemberi hidup atau sumber kehidupan.
Bahkan pintu bangunan pendopo komunitas ini, berreliefkan Nyi Dewi Ratu Kembar.
Dalam
sistem sosial dan budaya yang dibangun di lingkungan dayak "Bumi
Segandu", posisi dan derajat wanita memang sangat ditinggikan. Karena itu,
sekalipun Takmad disegani, dia akan takluk bila berhadapan dengan istrinya. Berkhianat
atau berbohong pada istri (wanita) adalah sebuah dosa besar yang tak terampuni.
Karena itu pula, bila ada konsep "tuhan" dalam komunitas "Bumi
Segandu", manifestasinya ada pada sosok wanita yang disebutnya sebagai
"Nyi Dewi Ratu".
Nyi
Dewi Ratu itu menguasai sukma bumi atau hukum-hukum kebenaran yang dibahasakan
dengan istilah sejarah alam. Dia harus dipuja dan ditinggikan lewat ngajirasa
dan ngadirasa (laku atau amal-amalan). Dalam keseharian, pemujaan terhadap Nyi
Dewi Ratu dipraktekan dalam bentuk kesetiaan terhadap istri.
Ajarannya
Takmad tampaknya banyak dipengaruhi konsep kejawen (Hindu-Jawa). Sebagaimana
kita tahu, pada pemahaman masyarakat kejawen Pulau Jawa itu dikuasai oleh
Dewi-dewi, itu pula kenapa semua penguasa alam di Jawa selalu disimbolkan dengan
wanita seperti Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Kidul), Nyi Blorong (Penguasa
Gunung Bromo), Dewi Sri (Dewi Padi) dan lain-lain.
D.
Macam-macam Suku Dayak
Di dalam suku Dayak terdapat
beberapa jenis anggota suku dayak yang bermacam-macam, yaitu sebagai berikut :
1. Suku Dayak :
Adalah Suku Dayak yang menggunakan
celana berwarna hitam putih dan tidak menggunakan baju, tetapi perempuannya
masih menggunakan baju. Dan juga menggunakan aksesoris seperti gelang, dan
kalung yang terbuat dari pring kuning, serta menggunakan topi kerucut.
Suku dayak ini sudah menganut sistem
kepercayaan bahwa mereka menggunakan celana hitam putih yaitu karena berpatok
dari filosofi adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, salah dan benar,
dan lain-lain. Filososfi tersebut terdapat dalam suatu kitab yang setiap acara
ritual dibacakan dan disucikan.
Mereka menganut kepercayaan, dan
tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), karena mereka meyakini bahwa semua
agama adalah baik, dan mereka sangat menghormati orang-orang dari berbagai
kalangan dan agama, tidak melihat dari suku, ras, dan lainnya.
2. Suku Dayak
Siswa :
Adalah Suku Dayak yang hampir sama
dengan suku dayak dari penjelasan diatas, perbedaannya adalah suku Dayak siswa
menggunakan celana berwarna hitam, dan tidak mengenakan pakaian. Sistem
kepercayaannya sama, yaitu masih menganut sistem kepercayaan, hanya saja Suku
Dayak siswa ini masih awam karena baru masuk ke dalam keanggotaan Suku Dayak.
3. Suku Dayak
Preman :
Lain halnya Suku Dayak Preman, golongan
Suku Dayak ini berbeda dengan suku Dayak dan Suku Dayak Siswa. Suku Dayak
Preman ini masih menggunakan pakaian seperti halnya masyarakat biasa, Suku
Dayak ini juga masih mempunyai KTP dan belum menganut sistem kepercayaan,
sehingga masih memiliki agama. Untuk kelompok kedua ini yaitu komunitas
suku Dayak yang menggunakan pakaian lengkap dan berwarna-warni, jumlahnya
cukup banyak dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia
E.
Ritual Suku Dayak
Ritual
yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu,
dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu
kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih
hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu,
kaum perempuan duduk berselonjor di luar pendopo. ritual
awal biasa digelar pada minggu pertama bulan pertama atau setiap malam Jumat
kliwon,selama 4 bulan lima hari ini, hanya diikuti Dayak Alami yang
beranggotakan 100 orang. “Kenapa dimulai setiap malam jumat kliwon, karena alam
menyampaikan pesannya setiap malam itu dan secara terus menerus.
Ritual diawali dengan melantunkan
Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari
Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule
sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana
2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana,
uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana ada pada saya ada pada kamu,
lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya
di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar,
benar, jujur, nerima.
Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual berendam ini disebutkungkum.
Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.
Medar menceritakan cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at.
Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.
Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual berendam ini disebutkungkum.
Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.
Medar menceritakan cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at.
Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.
2.
Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah
A.
Profil Mimi Rasinah (Pendiri Tari Topeng Indramayu)
Dari
kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Pada umur 5
tahun ia sudah diajarkan menari oleh ayahnya yang berprofesi sebagai dalang dan
ibunya yang berprofesi sebagai dalang ronggeng. Menginjak Mimi Rasinah berusia
7 tahun, ia mulai berkeliling untuk bebarangan
atau mengamen tari topeng. Ketika bangsa Jepang
sampai ke Indramayu, rombongan topeng ayahnya dituduh oleh Jepang sebagai
mata-mata, sehingga semua aksesori tari topeng dimusnahkan oleh bangsa Jepang
hingga hanya satu topeng saja. Baru
pada 1994, Endo Suanda dan seorang rekannya sesama dosen di STSI Bandung,
Toto Amsar Suanda, "menemukan kembali" Rasinah. tarian topeng Kelana
yang dipertunjukkan Rasinah membuat keduanya terpesona. Aura magis yang ada,
serta karakter yang berubah-ubah sesuai dengan karakter 8 topeng
yang ada, dari mulai topeng panji sampai kelana, membuatnya terpesona. Seketika
itu juga semangat Rasinah untuk menari kembali bangkit, dan Rasinah mulai
kembali berpentas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti
kesenian ini dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak
yang menyebutnya klasik. Mimi Rasinah juga aktif mengajarkan tari topeng ke
sekolah-sekolah yang ada di Indramayu
Pada
tahun 2006, Rasinah jatuh pada saat mengambil air wudhu setelah mengajar tari
di sebuah sekolah di Indramayu. Dua pekan setelah dirawat di RSHS, Mimi
mengakhiri jalan tarinya. Ia mewariskan seluruh topeng dan aksesorinya kepada
Aerli Rasinah, sang cucu penerus, dalam sebuah upacara yang mengharukan sekali.
Pada 15 Maret
Aerli harus bebarangan di tujuh tempat dalam sehari sebagai syarat untuk
meneruskan Mimi Rasinah. Sejak hari itu, keberadaan sanggar pun berada di
pundah mahasiswa STSI Bandung berusia 22 tahun ini.
Meski
sebagian tubuhnya lumpuh akibat stroke, namun semangat Rasinah untuk menari tetap ada, Rasinah
berkata "Saya akan berhenti menari kalau sudah mati". Hal ini
dibuktikan pada tarian terakhirnya, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam
acara pentas seni dan pameran "Indramayu dari Dekat", setelah tarian
itu dia dia jatuh sakit dan dirawat di RSUD Indramayu. Pada tanggal 7 Agustus
2010 Mimi Rasinah akhirnya meninggal dunia, namun aktivitas menari di sanggar
tarinya masih tetap berjalan.
Mimi
Rasinah dikebumikan di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu
pada hari Minggu, 08/08/2010 sekitar pukul 9:00 WIB. Ratusan iring-iringan
pelayat mengantarkan kepergian sang maestro yang namanya telah mendunia karena
tari topengnya. Prosesi pemakaman maestro tari topeng Indramayu berlangsung
secara sederhana. Warga yang turut mengantar jasad sang maestro topeng gaya
Indramayu sampai diperistirahatannya yang terakhir. Namun hanya sejumlah
seniman dan pejabat setempat yang hadir untuk mengikuti prosesi pemakaman.
B.
Penerus Tari Topeng Mimi Rasinah
Semasa
hidupnya Mimi Rasinah meminta kesediaan Aerli untuk belajar sungguh-sungguh dan
meneruskan tradisi yang memang diwarisi di dalam keluarga secara turun temurun
dalam sebuah seremoni simbolis dengan pentas di pelataran di dalam kompleks
makam Sunan Gunung Jati.
Memang
usianya masih muda, lahir 1985 silam. Namun jika bicara soal prestasi dan
pengalamannya di tari topeng, sepertinya tak berlebihan jika mengacungkan dua
jempol. Dia adalah Aerli Rasinah, cucu sekaligus pewaris tari topeng Mimi
Rasinah.
Ketika kami Menemui Mba Aerli di Sanggar tari topeng Mimi Rasinah, beliau mengungkapkan alasannya mengambil jalan hidup meneruskan dan melestarikan tari topeng dari sang nenek. "Kalau kita sudah enggak kuat, ya hilang (kesenian tari topeng)," ungkapnya.
Meski nama Aerli sudah besar di dunia seni tari topeng, namun tak sebanding dengan kondisi sanggar. Ukuran sanggar sekitar 5x7 meter persegi. Di sudut ruangan terjauh dari pintu masuk, terdapat seperangkat alat musik gamelan. Di sampingnya ada etalase kaca berisi tumpukan seragam tari yang biasa digunakan untuk latihan.
Sambil duduk lesehan di sanggar, Aerli menceritakan pengalamannya menjadi penerus tahta tari topeng Mimi Rasinah. Bahwa, perkara mudah mendapatkan amanah dari sang nenek. Yang susah justru mempertahankan dan meneguhkan hati untuk meneruskan dan melestarikan kesenian tari topeng.
Ketika kami Menemui Mba Aerli di Sanggar tari topeng Mimi Rasinah, beliau mengungkapkan alasannya mengambil jalan hidup meneruskan dan melestarikan tari topeng dari sang nenek. "Kalau kita sudah enggak kuat, ya hilang (kesenian tari topeng)," ungkapnya.
Meski nama Aerli sudah besar di dunia seni tari topeng, namun tak sebanding dengan kondisi sanggar. Ukuran sanggar sekitar 5x7 meter persegi. Di sudut ruangan terjauh dari pintu masuk, terdapat seperangkat alat musik gamelan. Di sampingnya ada etalase kaca berisi tumpukan seragam tari yang biasa digunakan untuk latihan.
Sambil duduk lesehan di sanggar, Aerli menceritakan pengalamannya menjadi penerus tahta tari topeng Mimi Rasinah. Bahwa, perkara mudah mendapatkan amanah dari sang nenek. Yang susah justru mempertahankan dan meneguhkan hati untuk meneruskan dan melestarikan kesenian tari topeng.
C.
Waktu Latihan Tari Topeng
Sanggar
Mimi Rasinah membuka kursus menari tari topeng untuk masyarakat Indramayu.
Pelatihnya adalah Aerli (Cucu dari Alm.Mimi Rasinah) dan dibantu sanak keluarga
yang lain untuk memainkan musik gamelan. Proses latihan dibagi menjadi dua
jenis. Yaitu sebagai berikut :
1.
Yang pertama adalah kelas mandiri, yaitu proses latihan dilakukan pada jadwal
yang ditentukan sendiri oleh penari yang ingin melakukan latihan. Dan jumlah
yang latihan terkadang hanya sendiri ataupun beberapa orang saja. dan biaya
untuk kelas mandiri ini sebesar Rp.25.000 untuk satu kali pertemuan.
2.
Kemudian ada kelas mingguan, yaitu proses latihan yang dilakukan rutin pada
hari minggu yang dimulai pada pukul 09.00-12.00 siang. Biasanya yang mengikuti
latihan pada kelas mingguan ini adalah anak-anak kecil yang didampingi oleh
orangtuanya saat mengikuti latihan. Dan jumlah yang latihan lebih banyak jika
dibandingkan dengan kelas mandiri. Biaya untuk kelas rutin ini sebesar
Rp.20.000 untuk satu kali pertemuan.
3.
Hambatan-hambatan
A. Suku Dayak
1.
Lokasi cukup jauh, sehingga membuat kami harus menempuh jarak dengan waktu yang
cukup lama karena lokasi padepokan Suku Dayak berada di desa Losarang.
2.
Kekurangan informasi mengenai ritual yang dilakukan oleh suku Dayak, sehingga pada satu hari yang sama kelompok kami pulang pergi ke desa Losarang hingga dua kali dan selesai meliput pada tengah malam.
3.
Pada hari ketiga meliput, ternyata narasumber sedang berada diluar kota, sehingga kami harus menunggu hingga beberapa hari untuk meliput
kembali.
4.
Saat meliput kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Suku Dayak, tempat yang menjadi lokasi mata pencaharian
mereka cukup jauh dan saat pulang hujan deras.
5.
Karena proses pengeditan video dilakukan oleh kelompok kami sendiri tanpa menggunakan jasa pengeditan video oleh orang
lain, maka waktu yang digunakan hingga
pengeditan selesai cukup memakan waktu yang lama.
B. Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah
1.
Saat hari pertama meliput, narasumber tidak berada ditempat walaupun kami sudah membuat
janji karena ada pekerjaan mendadak. (mengisi acara tari topeng di Cirebon)